Register
Home FEMALE INFO FeMale Lifestyle Waspada Distimia, Depresi Lunak Berbahaya
13
Feb

Waspada Distimia, Depresi Lunak Berbahaya

Distimia, atau yang juga dikenal sebagai persistent depressive disorder (PDD) merupakan salah satu gangguan mental yang tercantum dalam buku panduan psikiatri dari AS, Diagnostic and Statistical Manual (DSM).

 

Hal ini merujuk pada kondisi saat seseorang mengalami depresi berkepanjangan, minimal selama dua tahun berturut-turut pada orang dewasa atau setahun pada anak-anak dan remaja.

Dilansir MayoClinic, penderita distimia akan kesulitan merasa bahagia sehingga kerap dipandang sebagai pemurung. Gejala-gejalanya sebagaimana yang dialami Katy, ditambah gangguan tidur, kehilangan nafsu makan atau justru sebaliknya, mudah marah, sering merasa bersalah saat mengingat masa lalu, dan merasa terus kehilangan harapan.

Distimia pada orang-orang di bawah usia 21 bisa berasosiasi dengan risiko tinggi gangguan kepribadian dan penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol. Tidak hanya itu, kendati tergolong depresi ‘lunak’, distimia bisa mendorong munculnya depresi berat pada saat bersamaan atau yang dikenal sebagai double depression. Dalam keadaan depresi berat, bukan tidak mungkin seseorang memiliki pemikiran menyakiti atau bunuh diri.


Akar Masalah Distimia

Para pakar psikiatri belum menentukan penyebab pasti distimia atau depresi. Ada kemungkinan hal ini terkait faktor genetis, tetapi pada sebagian penderita distimia tidak ditemukan rekam jejak keluarga dengan masalah sejenis. Ada pula kemungkinan fungsi abnormal di otak yang menjadi akar masalah distimia.

Penjelasan lebih lanjut mengenai faktor gangguan di otak yang terkait distimia diberikan Brett Wingeier, CTO dan salah satu penggagas Halo Neuroscience, dalam Forbes.

Ia mengatakan, saat terjadi momen manis, otak manusia akan mengeluarkan senyawa kimia yang mengatur perasaan bahagia. Begitu pun saat terjadi peristiwa pahit, sistem otak akan mengaktivasi senyawa kimia terkait perasaan sedih. Dalam keadaan normal, fungsi otak ini berjalan seimbang. Namun, pada pengidap distimia, sistem yang mengatur perasaan buruk akan jauh lebih aktif dan sistem pengatur mood tak merespons dengan baik kondisi-kondisi menyenangkan.

Selain dua kemungkinan ini, distimia juga disebut-sebut dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa buruk dalam relasi atau pekerjaan yang pernah dialami seseorang, penyakit fisik, serta efek obat.

 

Masih Disepelekan

Masalah depresi masih menjadi momok bagi sebagian orang. Alih-alih menceritakan hal ini kepada orang terdekat atau tenaga medis, mereka memilih untuk bungkam. Hal ini merupakan pilihan yang memperburuk situasi mental mereka menurut Dr. David Mischoulon, psikiater di Massachusetts General Hospital.

Dalam Harvard Health Publishing ia menyatakan, “Kesalahan mereka adalah mereka percaya bahwa perasaan buruk yang terjadi hanyalah situasional dan akan hilang sendiri. Mereka tidak nyaman membicarakan perasaannya dan takut dipandang lemah oleh orang lain.”

Stigma buruk terhadap pengidap depresi juga bisa diakibatkan oleh minimnya pengetahuan orang-orang mengenai penyakit mental. Mereka yang tidak pernah mengalami hal tersebut akan sulit memahami pengalaman pengidap depresi dan menunjukkan empati.

Misalnya saat pengidap depresi berulang kali mengonsumsi antidepresan. Cukup jamak anggapan bahwa pengidap depresi adalah pecandu obat dan kerap menyalahgunakan hal ini. Saat terjadi generalisasi, orang yang benar-benar menderita penyakit mental dan mesti melakukan terapi dengan obat-obatan sesuai anjuran dokter pun akan terimbas mendapat cap buruk semacam ini.

 

(ps)


Sumber: TIRTO

 

Search

Advertise Here

MD's Review

Imsakiyah

imsakiyah 2018

 

FeMale Herald

FeMale Lifestyle

Entertainment

FeMale Travel

Jakarta's Info

Joy Parenting