Register
Home FEMALE INFO FeMale Herald RUU Permusikan: Kenapa Ramai Dibicarakan?
06
Feb

RUU Permusikan: Kenapa Ramai Dibicarakan?

Ratusan musisi dari berbagai genre menyatakan menolak pengesahan draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan.

 

Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan menilai tidak ada urgensi bagi DPR dan pemerintah untuk membahas serta mengesahkan RUU Permusikan untuk menjadi Undang-Undang. Sebab, draf RUU Permusikan dinilai menyimpan banyak masalah yang berpotensi membatasi, menghambat dukungan perkembangan proses kreasi, dan justru merepresi para pekerja musik.

 

Personel grup Daramuda, Rara Sekar mengatakan, setidaknya ada 19 pasal yang bermasalah. Mulai dari ketidakjelasan redaksional, ketidakjelasan subjek dan objek hukum yang diatur, hingga persoalan atas jaminan kebebasan berekspresi dalam bermusik.

 

Salah satu yang dipersoalkan oleh koalisi adalah Pasal 5. Pasal itu berisi larangan bagi setiap orang dalam berkreasi untuk mendorong khalayak melakukan kekerasan dan perjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat aditif lainnya; memuat konten pornografi, kekerasan seksual, dan ekspoitasi anak; memprovokasi pertentangan antarkelompok, antarsuku, antarras, dan/atau antargolongan; menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai agama; mendorong khalayak umum melakukan tindakan melawan hukum; membawa pengaruh negatif budaya asing; dan/atau merendahkan harkat dan martabat manusia.

 

Menurut Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca, pasal tersebut bersifat karet dan membuka ruang bagi kelompok penguasa atau siapapun untuk melakukan persekusi.

 

Berikut tanggapan dari musisi bahkan non-musisi lainnya:

 

Danilla Riyadi

“Kalau musisinya ingin sejahtera, sebetulnya sudah ada UU Pelindungan Hak Cipta dan lain sebagainya dari badan yang lebih mampu melindungi itu. Jadi untuk apa lagi RUU Permusikan ini,"

 

Sudjiwo Tedjo

"2) 'Naik motor gede enak bisa mengosongkan jalanan..' Dgn lirik itu pemusik bs dilaporkan polisi oleh organisasi moge, jk ada anggota moge nggak suka ke pemusik tersebut. Realitas khayalan ini akan jd realitas konkret jk pasal karet RUU Permusikan disyahkan #TolakRUUPermusikan,"

 

Marcell Siahaan

"Coba Mas Anang tanya istri saya, saat saya baca draft RUU Permusikan ini saya menangis. Menurut saya memalukan ketika beberapa pasal hanya copas dari UU Film,"

 

"Kan mau angkat derajat musikus, kita sebenarnya enggak bodoh. Kita diam aja bukan berarti kita bodoh. Kita lihat dan perhatikan dari jauh. Jangan anggap karena kita enggak bersuara, kita bodoh,"

 

"Menurut saya enggak urgent. Harusnya ditanya aja ke pemerintah untuk mengkaji UU yang sudah ada. Enaknya berangkat dari sana, mengkaji UU yang sudah ada, minta dibuatkan UU tata kelola. Pak jokowi juga waktu itu saat bertemu Glenn meminta musisi fokus mengurusi tata kelola aja. Kalau itu terjadi pasti domino efeknya baik,"

 

Iko Uwais

“Support bagi keluarga dan para sahabat musisi. Saya sebagai seniman ikut mendukung! #tolakruupermusikan,”

 

Glenn Fredly

"Itu value, soal kebebasan berekspresi karena musik itu tak bisa dibatasi. Yang penting itu tata kelolanya, bukan moralnya. Tata kelola industri dan aturan mainnya yang belum ada sampai saat ini di Indonesia,"

"Profesi gue sebagai musisi masih abu-abu, jadi salah satunya gimana UU dibuat agar bisa dikelola musik ini dari hulu ke hilir,"

 

Pandji Pragiwaksono

"Daripada nolak RUU mending ikutan duduk bareng. Karena mau ngga mau, RUU musik kayanya sih akan tetep ada. Lah negara kita udah 70 tahun lebih ngga punya RUU musik,"


Iwan Fals

"Kayaknya bikin album instrumental enak nih."

 

Ke depan, Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Anang Hermansyah akan meminta tambahan pendapat kepada musisi, terkait draf Rancangan Undang-Undang Permusikan atau RUU Permusikan.

 

Draf RUU yang saat ini beredar, kata Anang, sebenarnya juga merupakan hasil pembahasan dengan sejumlah musikus. Meski telah disusun ulang oleh tim ahli dan telah melewati Badan Keahlian Dewan (BKD) DPR, Anang mengakui masih banyak poin yang perlu diperbaiki di dalam draft tersebut.


(ps)


Sumber: TEMPO, KOMPAS

 

Subscribe

Mau info dan hadiah menarik?

 Sign Up

Search

MD's Review

FeMale Travel

Joy Parenting