Register
Home FEMALE INFO FeMale Herald Hapuskan UN atau Lakukan Perbaikan
16
Apr

Hapuskan UN atau Lakukan Perbaikan

"Rasa-rasanya soal matematika kemarin seperti soal seleksi masuk perguruan tinggi negeri," ujar Azzam Azizah Fiqli, siswi SMA 1 Malang, Jawa Timur.

 

"Soal yang keluar itu bukan yang umum-umum, tapi yang benar-benar materi yang dianggep enggak bakal keluar," tambahnya.

 

Kesulitan Zizzah bukan karena kurang persiapan, melainkan bobot soal yang kelewat susah. Dari 40 soal yang diujikan, sekitar sepuluh persennya masuk dalam kategori tingkat nalar tinggi alias High Order Thinking Skills (HOTS).

 

Apa itu HOTS? Edi Susanto dan Heri Retnawati, dalam salah satu artikel yang diterbitkan Jurnal Riset Pendidikan Matematika mendefinisikan HOTS sebagai "kemampuan berpikir yang terdiri atas berpikir kritis, berpikir kreatif, dan pemecahan masalah." Dengan HOTS, kata mereka, "siswa dapat memutuskan apa yang harus dipercayai dan apa yang harus dilakukan, mencipta ide baru, membuat prediksi dan memecahkan masalah non-rutin."

Dalam Prosiding Seminar Nasional Matematika yang diterbitkan Jurusan Matematika Universitas Negeri Semarang (PDF), salah satu contoh soal HOTS untuk mata pelajaran matematika adalah sebagai berikut:

"OSIS suatu sekolah mengadakan pentas seni... panitia memilih gedung yang tempat duduk penontonnya berbentuk lingkaran enam baris. Banyaknya kursi pada masing-masing baris membentuk pola barisan tertentu. Jika pada baris pertama terdapat 25 kursi, baris kedua 35 kursi, baris ketiga 50 kursi, baris keempat 70 kursi, dan seterusnya. Tentukan lah banyaknya seluruh tempat duduk pada gedung pertunjukan itu."

Pertanyaan kedua: "Apabila harga tiket baris pertama adalah paling mahal dan selisih harga tiket antara dua baris yang berdekatan adalah Rp10 ribu, dengan asumsi seluruh kursi penonton terisi penuh, tentukan lah harga tiket yang paling murah agar panitia memperoleh pemasukan sebesar Rp22,5 juta."

 

Saran untuk Pemerintah

Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina, Mohammad Abduhzen, menilai pemerintah tak bisa tiba-tiba memberikan soal dengan standar seperti itu. Sebab, para siswa masih berpikir di tingkat rendah atau Lower Order Thinking Skill (LOTS).

Menurutnya, pemerintah harus mengubah pendekatan dan metode pembelajaran para siswa terlebih dulu jika ingin memberikan soal-soal HOTS dalam UN.

"Dan itu tidak bisa dilakukan dengan waktu yang singkat," ungkap Abduhzen kepada Tirto, Minggu (15/4/2018).

Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim, juga berpendapat serupa. Katanya, soal-soal HOTS tidak adil karena guru-guru di tiap sekolah tidak dipersiapkan untuk mengimplementasikan metode berpikir tingkat tinggi tersebut sepanjang proses belajar mengajar.

Dengan kata lain, penerapan soal HOTS dalam ujian nasional tidak tepat karena persiapan menuju ke sana tidak ada.

"Percuma kalau soal-soal ujiannya di level tinggi, tetapi proses pembelajaran siswa tidak pernah menyentuh kemampuan berpikir kritis, evaluatif dan kreatif."

Jika hal tersebut tidak dilakukan, ia meminta agar ujian nasional dihapus saja. Sebab, urgensi penyelenggaraannya sudah tak jelas dan tidak berpengaruh pada kelulusan serta penerimaan siswa di perguruan tinggi negeri.

Karena alasan itu ia mengatakan Mendikbud tak bisa hanya minta maaf. Pernyataan maaf juga harus dibarengi dengan evaluasi secara menyeluruh.

Ada beberapa rekomendasi yang diberikan FSGI untuk Kemendikbud. Pertama, memberikan pelatihan intensif kepada para guru tentang bagaimana menerapkan HOTS dalam kegiatan belajar mengajar; Kedua, memberikan soal HOTS secara bertahap dari tahun ke tahun; dan terakhir, membuat soal bertingkat sesuai dengan standar pendidikan yang dicapai sekolah.

 

(ps)


Sumber: TIRTO

 

Search

Advertise Here

MD's Review

FeMale Herald

FeMale Lifestyle

Entertainment

FeMale Travel

Jakarta's Info

Joy Parenting