Register
Home FEMALE INFO FeMale Herald Polemik Larangan Musik Saat Berkendara
05
Mar

Polemik Larangan Musik Saat Berkendara

"Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi."

 

Aturan itu tertulis dalam Pasal 106 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pelanggar terancam hukuman penjara maksimal tiga bulan dan denda paling banyak Rp750 ribu sesuai Pasal 283 UU yang sama.

Sejak UU LLAJ disahkan 2009 silam, pasal-pasal di atas tak pernah dipersoalkan. Perhatian muncul setelah Kasubdit Bin Gakkum Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto menerangkan lebih jauh ihwal ini ketika jadi narasumber salah satu radio di Jakarta, Kamis (1/3).

Salah seorang pendengar radio tersebut kemudian bertanya apakah merokok juga dilarang saat berkendara. Budiyanto tidak menjawab pasti. Ia justru bertanya balik, apakah mendengarkan radio dan merokok itu mengganggu konsentrasi atau tidak saat berkendara.

Jawaban tersebut kemudian dimaknai bahwa polisi bakal menindak pengendara yang kedapatan merokok atau mendengarkan musik. Namun, Kepala Korps Lalu Lintas Polri Brigadir Jenderal Royke Lumowa memberikan pernyataan yang lebih jelas. Ia menegaskan ancaman pidana tak bisa diberikan kepada pengendara yang mendengarkan musik atau merokok.

"Tidak ada aturan seperti itu di UU 22/2009," ujar Royke saat dihubungi Tirto.

 

Apa yang dikatakan Royke memang tak meleset. Berdasarkan penjelasan Pasal 106 ayat (1) perhatian pengendara bisa terganggu karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon, menonton televisi, video yang terpasang di kendaraan, dan mengonsumsi minuman beralkohol/obat-obatan.


Kegiatan mendengarkan musik, apalagi merokok, berdasarkan penjelasan aturan itu, tidak dianggap sebagai hal yang bisa mengganggu perhatian saat berkendara.


Riset-riset Soal Berkendara

Pegiat keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan ada lima faktor umum pengganggu konsentrasi pengemudi.

Pertama, jalanan yang tidak dikenali atau ketika memasuki wilayah baru; kedua, masalah pribadi seperti soal keluarga atau keuangan; ketiga, objek yang cukup mencolok seperti reklame; keempat, kendaraan yang tidak biasa dipakai; dan kelima, gangguan dalam kendaraan, termasuk musik.

 

Warren Brodsky, director of music psychology di Department of the Arts Ben-Gurion University, Israel, mengatakan faktor yang menentukan baik buruknya mendengarkan musik ketika berkendara adalah apakah memiliki hubungan emosional dengan yang mendengarkan atau tidak. Sebuah lagu, apapun genrenya, selama memiliki kaitan emosional dengan pengemudi dapat menyebabkan hilang fokus.

 

Sementara dalam riset psikolog Ayça Berfu Ünal - artikel Listening to Music While Driving Has Very Little Effect on Driving Performance, Study Suggests (2013), disebutkan bahwa tidak ada dampak signifikan yang ditimbulkan musik terhadap pengemudi. Bahkan kegiatan mendengarkan musik bisa membuat pengendara semakin fokus saat menempuh jalan yang panjang dan lurus.

 

Diskresi Polisi dan Pasal Karet

Menurut Guru Besar Hukum Pidana dari Universitas Jenderal Soedirman, Hibnu Nugroho, polisi punya diskresi—kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi—memberi tilang kepada pengendara yang mendengar musik di luar kewajaran. Polisi bisa menilang apabila suara musik yang terpasang di kendaraan tidak dalam kondisi normal.


Ahli Hukum Pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar sependapat dengan Hibnu tentang perlunya revisi dan diskresi polisi. Namun, ia menekankan perlunya peraturan khusus lain yang meregulasi secara rinci tentang pelanggaran lalu lintas di jalan.

Peraturan ini untuk memberi batasan apa saja pelanggaran itu dan supaya apara polisi di lapangan tak seenaknya menafsirkan aturan tentang pelanggaran lalu lintas di pasal 106 ayat (1) UU LLAJ. Fickar mengkhawatirkan pasal 106 bisa bebas diartikan oleh polisi.

“Nanti jadi pasal karet kalau tafsirnya melebar,” katanya.

 

Tak langsung ditilang

Polda Metro Jaya mengaku tidak langsung memberikan sanksi hukum kepada pengemudi yang mendengarkan musik dan merokok saat sedang berkendara. Polisi hanya akan menyosialisasikan aturan itu selama digelarnya Operasi Keselamatan Jaya pada 5 hingga 25 Maret 2018 nanti.

 

"Itu yang dijaga jangan menggunakan gawai dan SMS pada saat menyetir," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono.


Namun, saat ditanya apakah merokok dan mendengarkan musik sudah tidak diperbolehkan lagi, Argo mengatakan, kedua aturan itu tidak berlaku bagi masyarakat yang sedang terjebak macet.

"Misalnya menunggu macet menjalankan musik boleh enggak? Boleh. Mendengarkan musik kok enggak boleh?" katanya lagi. "Boleh ngerokok. [Yang tidak boleh] ngerokok lempar puntungnya kena orang."

 

(ps)


Sumber: TIRTO

 

Search

Advertise Here

carmed

MD's Review

FeMale Herald

FeMale Lifestyle

Entertainment

FeMale Travel

Jakarta's Info

Joy Parenting