Register
Home FEMALE INFO Entertainment Joaquin Phoenix dan Karakter Gangguan Kejiwaan
03
Sep

Joaquin Phoenix dan Karakter Gangguan Kejiwaan

Sebelum memainkan karakter Joker, sosok aktor Joaquin Phoenix sering mendapatkan karakter dengan gangguan kejiwaan.

 

Joaquin Phoenix tergolong lahir dalam keluarga yang religius. Orang tuanya pernah tergabung dalam kelompok misionaris dan menyebarkan Kristen di Meksiko, Puerto Rico, dan Amerika Selatan hingga 1987.

 

Mereka sempat berpindah-pindah tempat tinggal hingga kemudian keluarga itu memutuskan menetap di Los Angeles ketika Joaquin berusia enam tahun.

Kala itu, sang ibu yang lahir dari keluarga Yahudi memilih bekerja sebagai sekretaris di NBC dan sang ayah sebagai penata taman.

Untuk menambah uang jajan, Phoenix bersaudara kerap tampil di jalanan, mulai dari mengamen hingga menyanyi. Hingga kemudian, mereka bertemu salah satu agen Hollywood anak-anak, Iris Burton.

Sejak itulah mereka memasuki dunia hiburan Hollywood. Phoenix bersaudara sempat muncul dalam berbagai acara televisi dan iklan.

Debut Joaquin sendiri bermula di sitkom Seven Brides for Seven Brothers (1982). Setelah itu, ia bekerja dengan kakaknya di ABC Afterschool Specials: Backwards: The Riddle of Dyslexia (1984).

Namun pada masa itu namanya yang tercantum bukanlah Joaquin Phoenix, melainkan Leaf Phoenix. Pergantian nama itu muncul karena Joaquin iri dengan saudaranya lantaran mereka memiliki nama bernuansa alam, seperti River, Rain, Liberty, dan Summer.


Namun nama "Leaf" ditinggalkan oleh Joaquin pada usianya ke-15 dan kembali menggunakan nama aslinya.

 

Pada akhir dekade '80-an, karier sang kakak, River mulai menanjak. Joaquin pun kecipratan rezeki dan bisa membintangi film Parenthood pada 1989.

Penampilan Joaquin Phoenix dalam film tersebut mendapatkan banyak respons positif dari berbagai kalangan. Namun di tengah pujian tersebut, ia justru memutuskan mundur dari panggung hiburan.

Perceraian kedua orangtuanya jadi salah satu faktor Joaquin Phoenix ingin rehat dan sempat memutuskan tinggal di Meksiko dengan ayahnya.

Pada 1993, nama Joaquin kembali terdengar oleh media. Namun bukan pada hal yang menyenangkan, melainkan karena sang kakak, River meninggal dunia karena overdosis.

Kala itu pada 31 Oktober 1993, Joaquin sedang bersama River di sebuah kelab malam. River ternyata malam itu menenggak obat terlarang hingga tidak sadarkan diri dan overdosis.

Rekaman panggilan darurat yang dilakukan Joaquin untuk menolong River diputar di seluruh dunia dan membuatnya trauma hingga setahun lamanya.

Joaquin kembali ke panggung hiburan pada 1995 lewat film To Die For yang digarap oleh Gus Van Sant. Dalam film ini, ia sudah memainkan karakter lelaki muda yang memiliki gangguan jiwa dan terhasut untuk membunuh.

Mulai dari peran tersebut, Joaquin kerap memainkan karakter-karakter tak biasa yang memiliki gangguan mental atau kejiwaan.

 

Telah lama berkecimpung di panggung seni peran, pihak Academy Awards baru meliriknya ketika Joaquin Phoenix bermain dalam film Gladiator (2001). Lewat film itu, ia mendapatkan nominasi Best Supporting Actor.

Penghargaan bergengsi pertama Joaquin Phoenix justru datang pada 2006 berkat filmnya bersama Reese Witherspoon, Walk the Line. Lewat film itu, Joaquin membawa pulang piala Golden Globe di kategori Best Actor Motion Picture Musical or Comedy.

Pada tahun yang sama, ia membawa pulang Grammy Awards lewat kategori Best Compilation Soundtrack Album for Visual Media.

Penghargaan lain yang diterima Joaquin Phoenix adalah You Were Never Really Here pada 2017. Joaquin mendapatkan Best Actor pada Cannes Film Festival 2017.

Joaquin Phoenix kembali menarik perhatian dan mengundang decak kagum para kritikus ketika memerankan sosok Joker.

Karakter penjahat utama DC itu sempat membuat Heath Ledger meraih piala Oscar pada 2008, meskipun diberikan usai sang aktor meninggal karena overdosis.


 

(na)


Sumber: CNN Indonesia

 

Subscribe

Mau info dan hadiah menarik?

 Sign Up

Search

MD's Review

FeMale Travel

Joy Parenting