Register
Home FEMALE INFO Joy Parenting Family Value vs Others Value
25
Jul

1366599693 parenting_clubKita sebagai parents, mungkin pernah mendapati anak yang pulang ke rumah dan stress karena ia mengalami pertentangan values antara apa yang diajarkan di rumah dengan yang ia temui di luar rumah. Misalnya, seorang anak yang di rumah diminta untuk selalu bersikap jujur oleh orangtuanya tetapi disuruh menyontek oleh gurunya di sekolah. Hal ini bisa menyebabkan anak menjadi bingung, stress, bahkan bisa sampai trauma bersekolah. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Pada dasarnya, anak adalah tanggung jawab orangtua. Hal ini berarti segalanya tentang anak harus dikembalikan lagi ke orangtuanya. Sebagai orangtua, kita harus mengajarkan dan menanamkan value kita pada anak. Sehingga apapun yang terjadi di luar sana, anak tidak akan bingung karena ia memiliki dasar dan fondasi yang dapat ia jadikan pegangan untuk bertindak.

Seringkali anak diajarkan bahwa guru adalah orangtua keduanya di sekolah, sehingga ia pun harus patuh. Namun ketika terjadi pertentangan value antara guru dan orangtua, dan anak menjadi bingung, maka tetap rujukannya adalah orangtua pertama. Misalnya jika suatu hari anak Anda pulang dari sekolah dan berkata “Ayah, Bunda, tadi Bapak/Ibu Guru menyuruh aku mencontek. Katanya mereka adalah orangtua keduaku dan aku harus patuh. Tapi ini berbeda dengan apa yang diajarkan Ayah dan Bunda. Aku harus bagaimana?” Kita harus menjawab dengan tegas, “Tentu saja ikuti apa yang diajarkan Ayah dan Bunda dong, Nak.” Orangtua pertama dan utama adalah bapak dan ibunya di rumah. Sehingga jika di sekolah anak disuruh mencontek padahal di rumah ia diminta untuk selalu jujur, anak akan berpegangan kepada apa yang diajarkan oleh orangtuanya di rumah. Konsekuensinya adalah, jika anak misalnya diledek di sekolah, atau tidak naik kelas karena tidak mau mencontek, orangtua harus siap membela anak karena ia sudah berpegang pada value utama yang diajarkan padanya di rumah.

Orangtua juga harus tahu bahwa semakin muda usia anak, maka ia akan semakin rapuh sehingga semakin mudah pula untuk menjadi bingung. Oleh karena itu, proses menanamkan nilai pada anak seharusnya dimulai dari bayi. Apakah bayi bisa mengerti? BISA. Mereka sebenarnya sudah mengerti, hanya saja belum sampai tahap mengolah karena memang kemampuan kognitifnya belum berkembang. Namun, semua yang kita sampaikan akan tetap masuk ke dalam subconscious, atau memori bawah sadarnya. Misalnya, kita ajarkan pada anak bahwa kita harus menjadi orang yang jujur. Kemudian jelaskan pula bagaimana perilaku orang jujur agar anak lebih mengerti. Bisa juga kita menggunakan dongeng untuk menanamkan value dan memberikan insight pada anak, dan ini seharusnya dilakukan orangtua sesering mungkin. Semua ini akan masuk dan tersimpan ke memori bawah sadarnya, meskipun ketika masih bayi anak terlihat tidak berdaya dan belum bisa melakukan apa-apa. Mereka sebenarnya merekam semua ini, termasuk juga perilaku kita terhadap satu sama lain, dan hal ini banyak tidak disadari oleh para orangtua.

Pertanyaan selanjutnya, jika anak sudah memiliki values yang ditanamkan oleh orangtuanya dan kemudian terjadi tabrakan, bagaimana caranya supaya anak memiliki kekuatan untuk tetap menurut pada orangtuanya? Selain pentingnya menanamkan values semenjak masih kecil, orangtua juga harus konsisten dengan value yang ia tanamkan. Misalnya jika kita mengajarkan tentang kejujuran, kita sebagai orangtua pun harus bertindak jujur, karena kitalah yang sebenarnya menjadi pegangan anak dalam berperilaku. Kita sebagai orangtua harus berperilaku konsisten dengan apa yang kita ajarkan, memberikan contoh pada anak-anak kita. We have to walk the talk, we must do what we preach.

Selain konsisten, orangtua juga harus mantap dengan values yang ia ajarkan. Jika orangtuanya saja galau, bagaimana anak bisa berpegangan pada kita? Jika kita merasa mantap dengan values yang kita ajarkan, anak akan merasa aman karena pegangannya adalah orangtuanya di rumah, meskipun mungkin ia dianggap aneh oleh teman-temannya di sekitar.

Nah, jika anak sudah mengetahui values-nya, yang sering menjadi masalah adalah orangtua yang masih belum bisa melepaskan anak ke dunia luar. Di satu sisi, hal ini memang amat sulit dilakukan, bahkan saya pun mengalaminya. THAT’S NORMAL! Namun di sisi lain, kita harus bisa melepaskan mereka, mereka harus tumbuh dewasa. Jadi yang harus kita lakukan adalah membimbingnya di setiap tahap yang ia lalui. Katakan padanya bahwa setiap kali ia merasa bingung, kembalilah ke rumah, ke orangtuamu karena itu adalah tempat yang paling aman untukmu. Jika anak merasa nyaman, maka ia pun akan lebih mau membuka diri kepada kita.

"Good parents give their children Roots and Wings. Roots to know where home is, wings to fly away and exercise what's been taught to them." – Jonas Salk

Ratih Ibrahim

ibu dua remaja, psikolog

direktur Personal Growth – Counseling & Development Center

twitt me: @ratihibrahim

 

Search

Advertise Here

MD's Review

FeMale Herald

FeMale Lifestyle

Entertainment

FeMale Travel

Jakarta's Info

Joy Parenting